PENGERTIAN,NAMA-NAMA AL-QUR’AN DAN PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN

A.    Pendahuluan
Al-qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat jibril dan diturunkan secara mutawatir. Al-qur’an merupakan kitab suci yang hadir untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Isi dari Al-qur’an merupakan rangkuman dari kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi - nabi sebelum nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang khusus untuk mendalami ilmu Al-qur’an. Tetapi sebelum kita mempelajari al-Qur’an lebih dalam lagi, alangkah  baiknya kita berkenalan dengan al-Qur’an dahulu yaitu dengan mengetahui tentang turunya al-Qur’an, bagaimana proses tahapan al-Qur’an bisa ada di bumi ini, dan apa saja hikmah yang tekandung didalam turunya al-Qur’an yang bertahap-tahap.  Penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana Al Qur’an itu bisa ada di muka bumi ini, agar menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT dan tetap pada ajaran Islam yang benar. Apabila kita tidak mengetahui sejarah turunya al-qur’an, maka kecenderungan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya  pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa lalu Islam akan terjadi lagi. Dari sinilah makalah ini kami susun dengan harapan agar kita semua semakin mengenali al-Qur’an, semakin cinta kepada al-qur’an dan semakin memperkaya ilmu  pengetahuan kita khususnya tentang ulumul Qur’an.
B.     Pengertian Al-Qur’an
Ditinjau dari segi bahasa, secara umum diketahui bahwa kata al-qur’an (القران ٌ) berasal dari kata قرا yang berarti mengumpul atau menghimpun. Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-qur’an asalnya sama dengan qira’ah, yaitu akar kata (mashdar-infinitif) dari qara’a, qira’atan wa qur’anan. Allah menjelaskan :
إنَّ عَلَيْنَاجَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17) فَإِذَاقَرَأْنَهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ (18)                                                                
 “Sesungguhnya Kami-lah yang bertanggung jawab mengumpulkan (dalam dadamu) dan membacakannya (pada lidahmu). Maka apabila kami telah menyempurnakan bacaannya (kepadamu, dengan perantara Jibril), maka bacalah menurut bacaannya itu.” (Al-Qiyamah : 17-18)[1].
Disamping itu masih ada lagi bentuk mashdar dari lafadh qara’a yaitu qur’ (قُرْء) tanpa alif dan nun yang mengikuti wazan fu’l (فُعْلٌ). Dengan demikian kata qara’a mempunyai tiga wazan (bentuk/sighat) mashdar, yakni qur’an (قرآن), qira’ah, dan qur’ (قُرْء). Ketiga wazan tersebut tetap memiliki satu makna yaitu bacaan. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa kata al-Qur’an merupakan bentuk mashdar yang mengandung fungsi makna isim maf’ul (yang di......), sehingga maknanya menjadi yang dibaca atau bacaan[2].
Para Ahli ushul fiqih menetapkan bahwa al-Qur’an adalah nama bagi keseluruhan al-Qur’an dan nama untuk bagian-bagiannya yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Maka jadilah ia sebagai identitas diri.
C.     Nama-nama Al-Qur’an
As-Suyuti menyebut bahwa musannif kitab al-Burhan fi Musykilati al-qur’an yaitu Abul Ma’ali Syaidalah telah meneliti ada 55 nama al-Qur’an sesuai dengan firman allah sendiri, yaitu:
1.       Al-Qur’an (bacaan)
Wahyu Allah yang diturunkan sebagai kitab terakhir diberi nama Al-Qur’an yang berarti bacaan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Nama inilah yang paling terkenal dan dikenal baginya, serta paling sering disebut dalam al-Qur’an itu sendiri. Paling tidak sebanyak lima puluh kali kata ini disebut dalam al-Qur’an.   
شَهْرُرَمَضَانَ الذِى اُنْزِلَفِيهِ الْقُرءَانُ.....                                                                           .(185)
“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang didalamnya diturunkan permulaan al-Qur’an.... “ (Al-Baqarah : 185)
Selanjutanya mengenai penggunaan al-Qur’an sebagai nama bagi kitab al-Qur’an tersebut dapat diperhatikan dalam ayat-ayat berikut ini, yakni surat al-Isra’ ayat 88, surat Thaha ayat 2, surat an-Naml ayat 6, surat al-Ahqaf ayat 29, surat al-Waqi’ah ayat 77, surat al-Hasyr ayat 21, dan al-Dahr ayat 23.
2.      Al- Kitab (catatan / yang ditulis)
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِي                                                                                     (2)
“Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah: 2)
3.      Busyro (kabar gembira)
قُلْ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِٱلْحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِي                          (102)
“Katakanlah, "Rohulkudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah)." (An-Nahl: 102)
4.       ‘Ilmu (ilmu pengetahuan)
فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْم                                                                           (61)
 “Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu.....” (Ali ‘Imran: 61)
5.      Al-Urwatil wusqo (tali yang kuat)
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 256)
6.      Al-Haq (kebenaran), dalam surat Ali ‘Imran: 62
7.      Jablullah (tali Allah SWT), dalam surat Ali ‘Imran: 104
8.      Bayan (keterangan), dalam surat Ali ‘Imran: 138
9.      Munadi (penyeru), dalam surat Ali ‘Imran: 193
10.    Nurun Mubin (cahaya terang), dalam surat an-Nisa’: 174
11.    Muhaimin (penyaksi), dalam surat al-Maidah: 48
12.    Adl (keadilan), dalam surat al-An’am: 115
13.    Siratunmustaqim (jalan yang lurus), dalam surat al-An’am: 157
14.    Basha’ir (penjelasan), dalam surat al-A’raf: 203
15.    Kalamullah (firman Allah), dalam surat at-Taubah: 6
16.    Hakim (bijaksana), dalam surat Yunus:1
17.    Mauidhah (nasehat), dalam surat Yunus: 51
18.    Huda (petunjuk), dalam surat Yunus: 57
19.    Rahmat (kasih sayang), dalam surat Yunus: 57
20.    Arabi (berbahasa arab), dalam surat Yunus: 2
21.    Qashas (kisah-kisah), dalam surat Yunus: 3
22.    Balagh (penyampai), dalam surat Ibrahim: 5
23.    Syifa’ (penawar), dalam surat al-Isra’: 87
24.    Qayyim (lurus), dalam surat al-Kahfi: 2
25.    Wahyu, dalam surat an-Nisa’: 45
26.    Dzikr (peringatan), dalam surat al-Anbiya: 50
27.    Mubarok (diberkati), dalam surat al-Anbiya: 50
28.    Zabur, dalam surat al-Anbiya: 50
29.    Al-Furqon (Pembeda), dalam surat al-Furqan: 1
30.    Tanzil (yang diturunkan), dalam surat asy-Syu’ara’:192
31.    Ahsanal Hadits (perkataan terbaik), dalam surat az-Zumar: 23
32.    Matsani (yang diulang-ulang), dalam surat az-Zumar: 23
33.    Mutasyabih (yang serupa), dalam surat az-Zumar: 23
34.    As-Shidq (kebenaran), dalam surat az-Zumar: 33
35.    Basyir (kabar gembira), dalam surat Fushshilat: 4
36.    Nadhir (ancaman), dalam surat Fushshilat: 4
37.    Aziz (mulia), dalam surat Fushshilat: 41
38.    Ar-Ruh, dalam surat asy-Syura:52
39.    Ali (yang tinggi), dalam surat az-Zukhruf:40
40.    Mubin (yang nyata), dalam surat az-Zukhruf: 2
41.    Hikmah (kebijakasanaan), dalam surat al-Qamar: 5
42.    Karim (mulia sekali), dalam surat al-Waqiah: 77
43.    Tadzkirah (peringatan), dalam surat al-Haqqah:49
44.    ‘Ajab (mengherankan), dalam surat al-Jin: 1
45.    Amrullah (keputusan Allah), dalam surat ath-Thalaq: 5
46.    Nabaun Adhim (berita agung), dalam surat An-Naba’: 201
47.    Suhuf (lembaran-lembaran), dalam surat ‘Abasa: 13
48.    Mukarramah (yang dimuliakan), dalam surat ‘Abasa: 13
49.    Marfu’ah (ditinggikan), dalam surat ‘Abasa: 14
50.    Muthohharoh ( yang disucikan), dalam surat ‘Abasa: 14
51.    Majid (yang mulia), dalam surat al-Buruj:21
52.    Qaul (pekataan), dalam surat ath-Thariq:13
53.    Al-Fasl (yang tegas), dalam surat ath-Thariq:130
54.    Al-Hadi (yang memberi petunjuk), dalam surat al-Isra’:9
55.    Balighoh (yang sempurna) , dalam surat al-Qamar:[3]

C.      Proses Turunnya Al-qur’an dan kriterianya
Proses turunnya Al-qur’an atau yang biasa disebut nuzulul qur’an adalah penyampaian/penetapan/turunnya Al-qur’an, baik ke lawh mahfudz, ke bayt al-Izzah maupun kepada Rasulullah SAW Sendiri[4]. Namun masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama mengenai definisi Nuzul.
Jumhur Ulama, antara lain Ar-Razi, Imam As-Suyuthi, Az-Zakarsyi, dan lain-lain mengatakan bahwa arti Nuzulul Qur’an secara hakiki tidak cocok untuk Al-Qur’an sebagai kalam Allah yang berada pada Dzat-Nya. Sebab, dengan memakai ungkapan diturunkan, menghendaki adanya materi kalimat atau lafal, atau tulisan huruf yang real yang harus diturunkan. Karena itu, arti kata Nuzulul Qur’an harus dipakai makna majazi, yaitu menetapkan/ memberitahukan/memahamkan/menyampaikan Al-qur’an. Sedangkan sebagian ulama, antara lain Imam Ibnu Taimiyah dan golongan Jahamiyah mengatakan : Pengertian Nuzulul Qur’an tidak perlu dialihkan dari arti hakiki kepada arti majazi. Sebab, kata Nuzul dengan arti turun dari tempat yang tinggi itu sudah menjadi bahasa kebiasaaan orang Arab[5].
Adapun kriteria proses turunnya Al-qur’an kepada nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :
1.      Berupa wahyu, yaitu dengan cara pemberitahuan langsung kedalam hati Nabi atau jiwanya mengenai suatu pengetahuan yang dia sendiri tidak mampu menolaknya dan tidak sedikitpun meragukan kebenarannya.
2.      Penyampaian pesan dibalik hijab,  yakni suara bisikan wahyu yang disampaikan kepada Nabi SAW dari celah-celah gemerincingnya suara lonceng, Jadi yang dijadikan hijab pendengaran para sahabat adalah gemuruhnya bunyi lonceng yang menghalangi telinga mereka mendengar bisikan suara wahyu ayat yang diturunkan. Tetapi telinga Nabi masih mendengar bisikan suara wahyu itu dari balik tabir suara lonceng tersebut.
3.      Penyampaian pesan melalui seorang utusan. Jenis inilah yang dipegangi oleh para teolog Muslim bahwa pembawa pesan (Al-qur’an) tersebut adalah malaikat jibril dengan menggunakan bahasa arab.







DAFTAR PUSTAKA

Syaikh Manna’ Al-qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006
M. Syakur, Ulum al-Qur’an, Semarang: PKPI2 – Universitas Wahid Hasyim, 2001
Muchotob hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif, Wonosobo: Gama Media, 2003
UIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al-qur’an, Surabaya :UIN Sunan Ampel press,2013
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, Surabaya:Dunia Ilmu,2013




[1]. Syaikh Manna’ Al-qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hlm. 16
2. M. Syakur, Ulum al-Qur’an, (Semarang: PKPI2 – Universitas Wahid Hasyim, 2001), hlm.2
[3].Muchotob hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif, (Wonosobo: Gama Media, 2003), hlm. 3-6

[4]. UIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Al-qur’an,(Surabaya :UIN Sunan Ampel press,2013), hlm, 51
[4] . Abdul Djalal, Ulumul Qur’an,(Surabaya:Dunia Ilmu,2013), hlm 51

Komentar